Minggu, 07 Oktober 2012

Short Story


cerpen yang ku tulis memenuhi tugas bahasa Indonesia di sekolah, enjoy reading~
 
Yang Tersimpan
Oleh Nurhaya Aditya P

Eli menenggak minuman sodanya sampai habis. Kakak perempuannya sekaligus saudara satu-satunya, Kamila berdiri tepat disebelahnya.
M
ereka mengenakan gaun satin yang dibelikan ibu mereka dua minggu lalu. Hari ini adalah hari yang spesial. Eli melihat sekeliling. Begitu banyak tamu yang datang. Kebanyakan adalah rekan kerja ayahnya. Acara ini memang telah dipersiapkan dengan matang. Gedung ini pun telah disewa ibunya dari enam buan yang lalu. Kue berwarna putih dengan hiasan cokelat serut menjulang tinggi menyita perhatian seisi gedung. Di atas panggung tergantung spanduk besar bertuliskan “25th Wedding Anniversary Edith & Herman Rayelli”. Itu adalah nama kedua orangtua Eli. Mereka terlihat sangat bahagia.
            “Elissa! Kamila!”
            Dari jauh terdengar suara memanggil. Eli mengenai suara itu.
            “Om Tanto,” sapa Kamila.
            “Maaf, Om terlambat. Macet sekali. Sepertinya ada kecelakaan mobil di jalan tol,” katanya beralasan.
            Eli mengangguk-angguk mendengarkan. Hanya mendengarkan. Tidak lebih. Karena Eli tahu tidak satu pun kata yang diucapkan Om Tanto benar. Paling-paling ia hanya bangun kesiangan. Atau bahkan lupa kalau acara ulang tahun perkawinan orangtuanya adaah hari ini. Om Tanto memang seperti itu. Om Tanto adalah adik dari Ibu Eli. Pekerjaannya? Tidak jelas. Ia bilang ia adalah ia adalah seorang fotografer tapi Eli belum sekalipun melihat karyanya.
“Eli, Om, aku tinggal dulu ya. Aku harus memberi ini pada Ayah,”Kamila membuka lipatan kertas yang dipegangnya. Itu adalah pidato sambutan yang akan diucapkan ayah mereka. Kamila berlari kecil menuju panggung. Sementara Om Tanto mengambil salah satu dari minuman soda yang terletak berjejer disepanjang meja. Sambil menyesap minumannya ia berkata, “Dua puluh lima tahun. Bisa kamu bayangkan? Waktu yang tidak sebentar,ya! Pasti semua orang berharap perkawinannya bisa mencapai angka itu. Kamu juga kan, Elissa? Saat kamu sudah dewasa nanti tentunya.
Eli hanya memberikan senyum terpaksanya. Ingin sekali ia berkata ‘tidak’, tapi tentu saja ia tidak melakukannya. Suara tepuk tangan dan sorak-sorai gembira para tamu mengalihkan perhatian Eli dan Om Tanto ke arah panggung. Ayah Eli akan memulai pidatonya. Bagi Eli, pesta ini hanya sebuah kebohongan. Sebuah acara yang dibuat dengan menghabiskan banyak uang, namun tidak memiliki makna sedikitpun. Ini bukan karena Eli tidak menghargai perkawinan kedua orangtuanya. Tapi karena ia mengetahui satu hal yang tidak diketahui oleh semua orang di pesta itu.
“Tidak mudah untuk mempertahankan sebuah perkawinan,” kata sang ayah membuka pidatonya.
Ya. Benar sekali, Ayah. Memang tidak mudah. Eli mencibir dalam hati. Ia kecewa, ayahnya sanggup menjalani kebohongan selama bertahun-tahun.
Saat itu, sekitar tiga tahun lalu, sepulang sekolah, Eli memutuskan untuk mampir ke kantor ayahnya. Keputusan yang masih ia sesali sampai sekarang. Karena saat ia melangkah menuju ruang kerja ayahnya, ia menyadari pintu ruang kerja tersebut sedikit terbuka. Pada saat itulah ia melihat ayahnya sedang bersama seorang wanita muda yang tidak ia kenal. Dan mereka terlihat cukup akrab. Terlalu akrab, malah. Pemandangan itu membuat Eli shock. Sekarang pun, semuanya masih terekam jelas di ingatan Eli. Dan sejak kapan hubungan itu dimulai? Eli hanya bisa menerka-nerka. Yang jelas, hubungan terlarang itu masih berlangsung sampai sekarang. Namun demi ibunya, demi kebahagiannya, Eli menutup rapat mulutnya.
***
S
epanjang perjalanan pulang, Eli duduk memandang keluar jendela mobil dengan tatapan kosong. Apakah yang ia lakukan selama ini benar. Menyimpan semuanya sendiri, tanpa memberitahu siapa pun di sekitarnya. Terkadang Eli merasa beban ini terlalu berat bagi dirinya yang masih duduk di bangku SMA.
            “Ya ampun!” seru Ayah sesampainya di rumah.
            “Ada apa?” tanya Ibu.
“Ayah baru sadar! Ponsel Ayah ketinggalan di gedung,”
Yang benar saja. Eli tidak percaya sedikit pun. Tentunya, ia memiliki dugaan tersendiri.
“Hmm... begini saja, Ayah,” kata Kamila.
“Kebetulan aku mau pergi lagi. Aku akan sekalian mengambilnya nanti,”
“Tidak. Tidak usah, Kamila. Itu terlalu merepotkan kamu. Ayah akan mengambilnya saja sendiri,” Ayah bersikeras. Lima menit kemudian, Ayah sudah melesat pergi menuju gedung tempat acara tadi berlangsung. Atau begitu katanya. Sampai kapan Ayah tega berdusta? Akankah kebohongan ini berakhir?
Sesampainya di kamar, Eli segera menyalakan komputer dan langsung menjalankan koneksi internetrnya. Hal yang selalu dilakukannya tiap malam. Ia mengecek inbox e-mailnya yang jumlahnya sudah mencapai ribuan. Sembian puluh sembilan persennya merupakan e-mail dari mailing list yang pernah ia ikuti dulu. Tapi entah kenapa, ketertarikannya sudah luntur sekarang, ia mengklik tombol “chat”. Selama beberapa detik ia menunggu. Lalu muncullah nama “DarkWorld”. Itu adalah nickname Eli. Tak lama setelah itu, muncul tulisan “DesperateGirl47 is online”. Eli mengklik nama itu.
DarkWorld      : Hai! Apa kabar?
DesperateGirl47: Hai juga. Tak terlalu baik disini. Sedang menunggu pacarku. Ia akan datang sebentar lagi.
DesperateGirl47 adalah teman maya Eli yang sudah dianggapnya sebagai sahabat. Eli tak pernah bertemu dengannya atau pun mengenalnya. Ia hanya secara tidak sengaja mengklik namanya saat sedang chatting suatu hari. Tak disangka-sangka, mereka merasa cocok dan setahun kemudian, mereka menjadi sahabat.
DarkWorld      : Pacarmu yang menduakanmu itu? Kamu masih pacaran dengannya?
DesperateGirl47 : Aku mencintainya.
DarkWorld      : Cinta itu aneh.
DesperateGirl47 : Memang. Kamu sendiri, menyimpan rahasia tentang ayahmu karena kamu terlalu mencintai ibumu kan? Cinta MEMANG aneh.
Ya. Eli memberitahunya tentang perselingkuhan ayahnya. Karena Eli pikir menceritakanny pada seorang teman maya tidak akan berbahaya. Lagipula, Eli mempercayainya.
DarkWorld      : Tidak lagi. Aku tidak akan menyimpannya lagi. Aku sudah memutuskan. Aku akan bicara pada ibuku.
DesperateGirl47 : Benarkah? Kamu yakin?
DarkWorld      : 100%yakin. Walau bagaimanapun, kebohongan itu salah. Aku akan menyerahkan semua keputusan pada ibuku. Tapi aku harap ibuku tidak akan menjadi seperti dirimu, yang menerima saja saat mengetahui dirinya diduakan.
DesperateGirl47 : H a h a ! seperti yang kamu bilang, cinta itu aneh.
Sekitar jam satu mereka mengobrol. Smapi akhirnya DesperateGirl47 memutuskan hubungan karena kekasihnya sudah datang, begitu katanya. Dan bagi Eli, ini adalah saatnya untuk membuka pintu kebenaran. Apapun yang akan dilakukan ibunya nanti, yang terpenting adalah ia harus mengetahui yang sebenarnya.
Eli berjalan menuruni tangga. Ia melihat Kamila sedang duduk menononton tv di ruang tengah.
“Sudah pulang, Kak?”tanyanya.
“Hmm. Sudah dari tadi,”jawab Kamila dengan mata terus terpaku pada layar bergerak itu.
“Ayah?”
“Belum pulang.”
“Ibu dimana?”tanya Eli lagi.
“Teras belakang.”
Tanpa ragu Eli melangkah menuju tempat ibunya berada. Cepat atau lambat, ini harus dilakukan. Ibu harus tahu.
Di teras belakang, Di sofa putih yang empuk, Ibu sedang bersantai sambil membuka-buka tabloid gosip kesukaannya. Eli menempatkan diri tepat disebelah beliau. Jantungnya terasa semakin berdebar-debar.
“Ibu,”panggilnya.
“Ya?” sahut Ibu Eli dengan santai. Wajahnya yang dihiasi senyum tipis terihat cerah.
“Ada apa, Eli? Kenapa kamu kelihatan tegang begitu?”
“sebenarnya, ngng...,”
“Ada apa, Eli? Jangan bikin Ibu takut. Bilang saja!”
“sebenarnya aku menyimpan raha....”
KRIIIIIIIIING!!! KRIIIIIIIIING...!!
Kalimat Eli terpotong oleh bunyi dering telepon. Ibu beranjak dari sofa untuk mengangkatnya, Eli hanya bisa duduk terpaku menatap ibunya yang sedang menanyakan identitas si penelpon. Ia masih memiliki tekad kuat untuk mengatakan yang sebenarnya. Setelah ibu menutup telepon , aku akan mengatakannya. Setelah ibu menutup telepon... kalimat itu terus diulangnya dalam hati. Namun tak lama, Eli melihat perubahan pada ekspresi wajah ibunya. Dan beberapa saat kemudian, ibu menjatuhkan gagang telepon yang digenggamnya dan hampir saja jatuh.
“Ibu? Kenapa? Ada apa?” Eli bergegas mendekati ibunya. Namun, Ibu tak menjawab. Tatapannya terlihat kosong.
“Ada apa?” tanya Kamila yang segera muncul setelah mendengar seruan Eli.
“Ibu?” panggil Eli sekali lagi. “Dari siapa telepon tadi, bu?”
“Ayah..., Ayah....”
“Kenapa dengan Ayah, Bu?” tanya Kamila. Kamila segera mengambil gagang telepon itu. “Halo?” katanya. “Siapa ini?”
Untuk sesaat Kamila mendengarkan suara di seberang sana.
“Iya. Benar, Herman Rayelli,” Kamila menjawab.”Aku anaknya.” Kamila kembali mendengarkan. Cukup lama ia terdiam. Dan disaat itulah ia mengetahui kenyataan pahit. Dengan lemas Kamila meletakkan gagang telepon. Ia menatap ibunya. Lalu Eli.
“Ayah..., kecelakaan. Ayah...,, tabrakan. Ayah.., sudah tiada.”
Kalimat itu membuat tubuh Eli membeku. Ia tak tahu harus berpikir apa. Ha ini tak pernah dibayangkannya. Ia hanya bisa duduk terdiam sambil memeluk ibunya. Kamila pun menjatuhkan dirinya ke antai. Ada sebagian dari dirinya yang belum ingin mempercayai kenyataan ini.
Begitu banyak hal yang meintas di pikiran Eli sekarang. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Namun satu hal yang pasti. Dengan kejadian ini, Eli sadar, ia akan menyimpan rahasia ini selamanya. Agar kisah cinta ayah dan ibunya tetap suci. Agar ibu tetap mengenang ayah sebagai suami yang baik. Eli sudah bertekad. Rahasia ini tidak akan keluar dari mulutnya. Sampai mati.
***
U
Tiga bulan kemudian...
ntuk pertama kali sejak kematian ayahnya, Eli menyalakan komputer. Ia masih belum bisa bangkit dari kesedihannya. Begitu pun Ibu yang tak pernah terlihat ceria lagi. Selama beberapa detik, Eli menatap layar. Tak lama kemudian, muncul tulisan “DesperateGirl47 is online”.
DesperateGirl47 : Hai! Kamu online rupanya. Kupikir kamu sudah melupakan aku.
Sahabat mayanya itu langsung menyapa begitu koneksi tersambung.
DarkWorld      : Maaf. Aku baru saja mengalami kejadian yang tidak enak. Karena itu, aku belum pernah online lagi. Sampai sekarang.
DesperateGirl47 : separah itukah ? aku sendiri juga sedang sedih. Kamu ingat pacarku? Yang menduakan aku? Aku kehilangan dia.
DarkWorld      :  Ia memutuskanmu?
DesperateGirl47 : Bukan. Bukan seperti itu.
DarkWorld      :  Jadi?
DesperateGirl47 : Dia meninggal dunia.
DarkWorld      :  Astaga!kapan?!
DesperateGirl47 : Hmmm... di hari yang sama saat kita terakhir chatting. Ia mengalami kecelakaan mobil setelah pulang dari rumahku.

Senin, 09 April 2012

Jangan Benci Aku, Mama



Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja, untuk dijadikan budak atau pelayan.
Namun , Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan, saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah.
Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa setel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan. Sama selalu menuruti perkataan saya.
Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal dunia, Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk.  Akhirnya, saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya bersama Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja.
Kemudin saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun telah berlalu sejak kejadian itu.
Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria baik. Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.
Angelica telah berusia 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya. Sampai suatu malam saya bermimpi tentang seorang anak laki-laki. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, “Tante,  Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mama.”
Setelah berkata demikian, ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, “Tunggu... sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu, anak manis?”. “Nama saya Elic, Tante.”
“Eric?Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?” saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal, dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba, terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu, seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati...mati...mati...
Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mama akan menjemputmu Eric...
Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk. Brad yang berada disamping saya menatap saya dengan pandangan heran. “Mary, apa yang sebenarnya terjadi?”
“oh, Brad kau pasti akan membenciku stelah aku menceritakan hal yang telah kulakukan dulu.” Namun saya menceritakannya juga dengan terisak-isak.
Ternayata, Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian.
Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad. Mata saya menatap lekat ubuk yang terbentang dua meter dihadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tempati beberapa tahun lamanya dan Eric...Eric... saya meninggalkan eric di sana 10 tahun yang lalu.
Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali... tidak terlihat sesuatu apapun!
Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan saksama. Mata saya mulai berkaca-kaca, saya engenali potongan kain tersebut sebagai baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya.
Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu. Airmata saya mengalir dengan deras.
Setelah beberapa saat, saya dan Brad mulai masuk ke dalam mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, tiba=tiba saya melihat sesorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu sangat gelap. Di belakang mobil kami berdiri seorang wanita tua dengan wajah yang sangat kotor. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau. “Heii..! siapa kamu?! Mau apa kau ke sini?!” dengan memberanikan diri, saya pun bertanya. “ Ibu, apa ibu kenal dengan seseorang anak laki-laki bernama Eric yang dulu tinggal disini?”
Ia menjawab, “kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mama...Mama...’ karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu!
Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu..”
Saya pun membaca tulisan dikertas itu...
“Mama, mengapa Mama tidak pernah kembali lagi...? Mama... marah sama Eric ya?Mam, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mama harus berjanji kalau Mama tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mam...”
Saya menjerit histeris mmebaca surat itu. “Bu, tolong katakan.. katakan di mana dia sekarang? Saya erjanji akan menyayanginya! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan!!”
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
“Nyonya , semua sudah terlambat. Kemarin, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal dibelakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mama-nya datang, Mama-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada didalam sana. Ia hanya berharap dapat melihat mama-nya dari belakang gubuk ini, meskipun huja deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya disana. Nyonya, dosa anada tidak terampuni.
Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi